Tuesday, May 26, 2015

BADUNG PADA JAMANDINASTI KSATRYA DHALEM ARYA TEGEH KORI (1400 – 1750 M)

BADUNG PADA JAMANDINASTI KSATRYA DHALEM ARYA TEGEH KORI (1400 – 1750 M)

Asal – Usul Dinasti Kyai Tegeh Kori
Diceritakan setelah kemenangan Patih Gajah Mada atas kerajaan Bali Kuna pada tahun 1343M, ditunjuklah Sri Kresna Kepakisan sebagai “Gubernur” Majapahit di Bali. Beliau bergelar Dhalem Samparangan, membangun istananya di desa Samprangan (desa Samplangan sekarang), sebelah Timur tukad Cangkir Gianyar sekarang. Beliau didampingi oleh 11 Arya, masing – masing diberi kedudukan sbb:
  1. Arya Kutawaringin di Gelgel
  2. Arya kenceng di Buwahan / di Pucangan Tabanan
  3. Arya Belog di Kaba-kaba
  4. Arya Sentong di Carangsari
  5. Arya Kanuruhan di Tangkas
  6. Arya Punta di Mambal
  7. Arya Jerudeh di Temukti
  8. Arya Tumenggung di Petemon
  9. Arya Pemacekan di Bondalem
  10. Arya Beleteng di Pacung
Selain itu juga didampingi oleh 3 orang wesya bersaudara: Tan Kober, Tan Kawur, dan Tan Mundur. Dhalem Samprangan mempunyai putera dan puteri yang terkemuka antara lain:

Dhalem Hile, Dhalem Tarukan, Dewa Ayu Swabhawa, Dhalem Ketut Ngulesir, Dewa Tegal Besung, dan beberapa putera lainnya, seperti Kyai Tegeh Kori yang diceritakan sekarang.

Sewaktu kecil putera Dhalem ini melakukan kesalahan yang fatal, yakni merangkak, menaiki badan baginda raja dari belakang sampai ke bahu pada saat Dhalem berbusana kebesaran dalam acara resmi dihadap oleh para Menteri. Putera kecil ini menurutLontar Raja Niti Sang Pandita melakukan dosa dan harus dipisahkan. Tetapi Dhalem sangat sayang kepada puteranya ini, akhirnya diberikan kepada Patih Arya Kenceng agar diajak ke Buwahan (Pucangan) serta agar dipersaudarakan dengan putera kandungnya. Seperti termaktub dalam prasasti Dhalem ada tulisan: “Tegeh Kori Arya Kenceng Pwa Sira”. Demikianlah Kyai Tegeh Kori menjadi anak angkat dari Arya Kenceng.

Arya Kenceng sendiri mempunyai putera kandung, yaitu: Sri Maghada Prabu dan Sri Maghada Nata. Sri Maghada Prabu tidak berambisi menjadi raja menggantikan ayahnya. Sri Maghada Nata naik tahta selanjutnya bergelar Arya Ngurah Tabanan atau Arya Pucangan. Arya Ngurah Tabanan mencurigai istrinya tertarik dengan Kyai Tegeh Kori, oleh karena itu, tidak tanggung-tanggung isterinya dibunuh. Menyadari hal ini Kyai Tegeh Kori merasa tidak nyaman tinggal bersama-sama di istana Buwahan.
Pada suatu malam yang gelap, Kyai Tegeh Kori menyelinap keluar istana, tanpa arah, tanpa tujuan. Mula-mula sampai di danau Beratan, terus ke Timur sampai di perbukitan Kintamani. Dari Kintamani beliau terus ke Timur hingga sampai di daerah yang sekarang disebut desa Songan di tepi Ulun Danu Batur. Di daerah ini beliau bersemadi, hingga Bhatari Dewi Danu berkenan turun. Bhatari menerima sembah sujud Arya Tegeh Kori, serta menunjuk ke arah Selatan yang kemudian disebut desa Tonja daerah Badung. (Waktu itu istilah Badung belum ada). Demikianlah Arya Tegeh Kori melanjutkan perjalanan menuju ke arah Selatan, ke desa Tonja daerah Badung.

Sampai di desa Tonja, di daerah yang kemudian di sebut Badung, ada sebuah kerajaan kecil yang sedang mengalami masa-masa surut akibat konflik internal. Ibu kota kerajaan bernama Pinatih, rajanya yang terakhir bernama I Gusti Ngurah Pinatih, keturunan Arya Wangbang. Raja beserta rakyat yang masih setia meninggalkan istana menuju tetamanan Kerhalangu, kemudian meneruskan perjalanan ke desa Blahbatuh menginap di rumah salah seorang warga keturunan Ki Karang Buncing. Akhirnya atas perkenan Dhalem di Gelgel, raja Pinatih menuju ke desa Sulang. Sementara itu pemuka-pemuka warga Pinatih yang lain menghadap Dhalem untuk membahas masa depan kerajaan Pinatih. Dhalem mengeluarkan kebijakan yang memerintahkan Arya Tegeh Kori untuk menjadi penguasa di daerah yang kemudian disebut Badung. Dengan demikian Badung memasuki jaman Ksatrya Dhalem Arya Tegeh Kori.

Arya Tegeh Kori Berkuasa di Badung (sekitar 1400 – 1750 M)
Setelah mendapat amanat dari Dhalem untuk menjadi penguasa di daerah Badung, Arya Tegeh Kori tidak menempati istana lama milik I Gusti Ngurah Pinatih, melainkan membangun istana baru di Ulun desa Tonjaya (desa Tonja sekarang), di pinggir tukad Ayung, sebagai Puri I. Ibu kota kerajaan di sebut Behaculuk (Benculuk). Kata Bonculuk = Buwahan = Jambe = Pucangan, semuanya mempunyai arti dan maksud yang sama yaitu: buah. Selain membangun Pura Puseh, Bale Agung, dan Pura Dalem, dibangun pula Perahyangan yang utama lazim disebut Pura Dhalem Arya Tegeh Kori tempat memuja Bhatara Tohlangkir, dan Parahyangan yang ke dua disebut Pura Batur Sari, tempat memuja Ida Bhatari di Gunung Batur.

Puri ke dua dibangun yang bernama Puri Satrya, sebagai lambang bahwa dinasti Arya Tegeh Kori adalah keturunan Ksatrya Dhalem. Kemudian dibangun Puri ke tiga bernama Puri Tegal, yang lokasinya terletak di sebelah Selatan balai banjar Tegal Gede sekarang sampai perempatan kecil menuju tukad Badung. Di Puri terakhir ini Penghulu Agama Siwa Dhanghyang Nirartha (Pedanda Sakti Wawu Rawuh) sempat menginap, dalam perjalanan beliau dari desa Tuban. Prosesi penyambutan Ida Pedanda oleh Arya Tegeh Kori tersurat dalam prasasti yang tersimpan di Pura Petitenget.
Berakhirnya kekuasaan Dinasti Tegeh Kori
Pada tahun 1750 ada sebuah konflik internal di dalam kerajaan Arya Tegeh Kori yang berujung dengan berakhirnya kekuasaan beliau. Masalahnya adalah perebutan seorang gadis putri dari Arya Tegeh Kori XI yang bernama I Gusti Ayu Mimba Sundari (Ratu Istri Tegeh). Persiapan upacara pernikahan antara putri raja dengan Kyai Jambe Merik putera dari Kyai Jambe Pule (asal-usulnya diceritakan pada bab berikutnya) sudah dilakukan oleh keluarga raja dan rakyat. Tiba-tiba ada permintaan dari raja Mengwi I Gusti Agung Made Agung Alang Kajeng, agar sang putri diserahkan ke Mengwi. Oleh karena kerajaan Mengwi pada waktu itu sedang mengalami masa kejayaan dengan reputasi laskarnya yang hebat. Arya Tegeh Kori tidak berani menolak permintaan tersebut, sang putripun diserahkan ke kerajaan Mengwi. Penyerahan gadis ini menimbulkan amarah yang besar dari pihak keluarga Kyai Jambe Pule karena dinilai sebagai penghinaan. Dengan mendapat dukungan dari rakyat pihak keluarga Jambe Pule memberontak terhadap kekuasaan Arya Tegeh Kori XI. Terjadilah perang di intern kerajaan Arya Tegeh Kori. Laskar yang masih setia dengan raja terdesak sampai ke desa Kaliungu, kemudian terdesak lagi sampai di sebelah Barat Banjar Taensiat, yang disebut dusun Tegal Tebuk. Sementara raja Arya Tegeh Kori XI bertahan di desa Tanguntiti sambil menunggu datangnya bala bantuan dari menantunya I Gusti Agung Made Agung Alang Kajeng.

Setelah lama menunggu, datang bala bantuan dari Mengwi. Raja Arya Tegeh Kori sangat kecewa, karena jumlah anggota laskar yang didatangkan amat sedikit, dan itupun dimasudkan hanya untuk mengawal sang menantu. Raja Arya Tegeh Kori XI akhirnya menyerah dan meminta peperangan di hentikan agar tidak menimbulkan korban lebih banyak. Demikianlah perang dihentikan dengan kekalahan pada keluarga raja.

Atas usulan dari raja Mengwi, permasalahan diselesaikan dengan pertemuan keluarga yang dilaksanakan di desa Kapal wilayah kerajaan Mengwi. Pertemuan keluarga ini melahirkan beberapa kesepakatan, diantaranya Arya Tegeh Kori XI menyerahkan kekuasaan. Laskar dan pengikut Arya Tegeh Kori diampuni dan dibebaskan memilih tempat tinggal. Sedangkan Kyai Tegeh Kori XI beserta keluarga menuju suatu desa yang kemudian disebut desa Tegaltamu (wilayah Gianyar), karena ada tamu dari Tegal.

Akhirnya para pimpinan laskar dan putra-putranya memilih jalan sesuai dengan keinginan masing-masing, seperti:
1. Ki Gusti Tegeh Gara, Ki Gusti Tegeh Kebek, Ki Gusti Tegeh Tegal dan keluarga menuju ke Jimbaran, Klungkung dan Jembrana.
2. Ki Gusti Tegeh Dawuh, Ki Gusti Tegeh Tengah, Ki Gusti Tegeh Tambun beserta keluarga menuju Penarungan, Carangsari, Petang, Pelaga, Tinggan, dam Penulisan.
3. Ki Gusti Tegeh Kandil, Ki Gusti Tengah Dogol, Ki Gusti Tegeh Jero, Ki Gusti Tegeh Degeng beserta keluarga menuju desa Beratan, Candikuning dan seterusnya.
4. Rombongan ke empat mengambil jalan yang paling singkat menuju kota Tabanan, dipimpin oleh Kyai Gusti Tegeh Wayahan, Kyai Gusti Tegeh Made Segara beserta keluarganya. Dua orang saudaranya Ki Gusti Tegal Agung dan Ki Gusti Tegal Dawuh gugur dalam menghadapi laskar Ki Pucangan. Sebagian rombongan ini menuju dan menetap di desa Bongan sekarang, sambil mundut pasasti dengan busana keraton yang lengkap.

Dengan demikian usai sudah kekuasaan Ksatrya Dhalem dinasti Kyai Arya Tegeh Kori di Badung yang berlangsung selama 350 tahun. Kemudian Badung memasuki jaman Kejambean.

No comments:

Post a Comment